3 Hal Sederhana Seorang Ayah Dalam Mendidik Anak

Dalam Islam, pengasuhan tak hanya dibebankan pada ibu semata. Islam secara tegas memposisikan ayah harus terlibat dalam proses pengasuhan, terutama menanamkan aqidah dan tauhid yang benar kepada anak.


Sebagaimana firman Allah berikut: “Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kelaliman yang besar”. (QS. Lukman (31):13)

Sahabat ummi, sebagai muslim, aqidah dan tauhid menjadi pondasi penting yang patut ditanamkan sedari dini. Ketika nilai aqidah dan tauhid telah ditanamkan pada anak-anak, diharapkan generasi Islam ini akan tumbuh menjadi anak berakhlak dan berbudi pekerti sesuai dengan tuntunan syariat Islam yang benar.

Beikut hal- hal sederhana ayah dalam mengajarkan aqidah dan tauhid kepada anak sejak dini:

1. Mencontohkan berwudhu dan sholat

Anak adalah makhluk peniru yang sangat cepat mempelajari bebagai hal yang ada di lingkungannya. Meskipun balita belum memahami arti berwudlu dan sholat, ayah perlu mencontohkan kepada anak cara berwudlu dan sholat.

Mencontohkan disini maksudnya setiap kali ayah sholat baik dilakukan secara sendiri maupun berjamaah, ajaklah anak untuk melakukan aktivitas berwudhu dan sholat bersama. Aktivitas ini tentunya akan merepotkan ayah, sebabkan balita cenderung melakukan aktvitas sesuka hati dan lebih banyak untuk bermain apalagi bertemu air untuk berwudlu.

Meskipun demikian, dalam membimbing balita ayah perlu sabar dan bimbinglah dengan penuh kasih dan sayang. Percayalah dalam aktivitas yang merepotkan itu, ada tingkah laku lucu anak yang akan jadi kenangan indah sepanjang hayat.

2. Bersedekah kepada orang yang kekurangan

Balita cenderung memiliki sifat egosentrik yang sering membuat orang tua kewalahan. Usia balita, anak sangat protektif dengan barang kepunyaannya. Ia akan sangat pelit dan tidak mau berbagi apapun yang telah menjadi hak miliknya sepert mainan, boneka, pakaian bahkan makanan. Sifat ini sangat wajar dilihat dari aspek perkembangan psikis anak.

Namun, sebagai orang tua, terutama ayah keteladan tetap harus dicontohkan. Saat mengajak jalan-jalan, ajarkanlah anak untuk berbagi atau bersedekah kepada orang-orang kurang beruntung  yang ditemui. Berikanlah sejumlah uang sesuai niat kepada anak dan suruhlah sikecil untuk memberikan langsung kepada orang yang dimaksud.

Cara lain, jika ayah mengajak si kecil ke masjid, ajarkanlah anak untuk menyisihkan uang jajannya untuk disedehkan ke celengan masjid. Dengan begitu, diharapkan anak akan terbiasa berbagi kepada orang lain dan bersedekah dengan cara yang benar.

3. Mengajarkan doa-doa harian dan ayat-ayat pendek

Usia balita dikenal juga dengan masa emas atau golden age. Di masa ini, anak memiliki kemampuan belajar yang sangat cepat. Anak akan sangat mudah menyerap ilmu yang diajarkan kepadanya. Tak jarang kita akan temui tingkah laku mereka  yang lucu saat menirukan beragam hal yang sempat dilihat dan didengar anak.

Meskipun, sehari-hari waktu anak banyak dihabiskan bersama ibu, ayah tetap harus memberikan pelajaran sederhana kepada anak. Pelajaran sederhana namun memiliki dampak yang besar terhadap kehidupan beragama anak adalah mengajarkan doa-doa sederhana seperti doa mau makan, doa mau tidur dan doa berkendaraan serta ayat-ayat pendek yang mudah dihapal.

Pelajaran doa-doa ini tentu harus dibarengi dengan aktivitas hariannya, oleh sebab itu ayah dituntut untuk meluangkan waktu  anak saat makan, menjelang tidur serta waktu-waktu penting anak lainnya. Ayat-ayat pendek dapat diajarkan kepada anak pada waktu luang seperti usai sholat berjamaah di rumah, dalam perjalanan atau saat anak-anak bersantai menjelang tidur.

Demikianlah hal-hal sederhana yang perlu ayah perhatikan dalam memberikan pelajaran aqidah dan tauhid pada anak sejak usia dini.