Ketika sang Ibu menjadi Pengojek Online demi Kuliah Anaknya


Sri Utari (51) tidak berhenti tersenyum saat sedang berkumpul dengan puluhan pengemudi ojek berbasis aplikasi online, Blu-Jek di halaman restoran 3 Wise Monkeys, Jakarta Selatan.

Hari itu, ia bersama 999 pengemudi Blu-Jek lainnya sudah siap untuk mengais rezeki dengan mengantarkan puluhan juta orang yang butuh moda transportasi ojek di Jabodetabek.

Perempuan asal Tajur Halang, Bogor itu mengaku momen ini sudah lama ia tunggu. Ia mengaku telah mendaftarkan diri sebagai pengemudi Blu-Jek sejak Agustus 2015 dan tak sabar ingin dapat penghasilan tambahan dari pekerjaan barunya ini.

“Sebelumnya saya pernah mendaftar Go-Jek, tapi antrian pendaftarannya begitu banyak. Saya tidak dapat kesempatan untuk mendaftar meski sudah antri,” tuturnya.

Ia melanjutkan, saat itu pula ada pendaftar lain yang memberitahunya bahwa akan ada aplikasi ojek digital baru yang akan hadir dan mungkin kesempatan untuk diterima lebih besar.

Tanpa pikir panjang, perempuan yang juga bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada sebuah rumah di Cipete ini langsung datang ke kantor operasi Blu-Jek di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan pada awal Agustus 2015.

“Saya datang kesana sudah membawa seluruh persyaratan administrasi seperti Surat Izin Mengemudi (SIM), Kartu Keluarga (KK), dan juga motor, kebetulan sama dengan persyaratan di aplikasi ojek online lain jadi saya sudah siap,” lanjut Utari, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, meski sudah gagal menjadi pengemudi di salah aplikasi ojek online, namun langkahnya tak surut. Utari merasa harus mendapat penghasilan tambahan untuk membiayai pendidikan anaknya.

“Anak saya yang pertama kini sudah berusia 20 tahun, tapi hingga saat ini ia belum bisa kuliah, karena memang tidak ada dana,” ucapnya dengan bibir bergetar dan kedua tangan yang bergantian menyeka air matanya yang perlahan menetes.

Perempuan paruh baya ini berkisah, sebelum menjadi pembantu rumah tangga, ia merupakan seorang pegawai di salah satu hotel bertaraf internasional di Jakarta. Maka, tidak heran jika di sela-sela perbincangan ia selalu mengucapkan beberapa istilah dalam bahasa Inggris dengan pengucapan yang fasih.

Namun, jarak tempat tinggal dengan kantornya yang cukup jauh dan berbeda provinsi perlahan mengikis kesehatannya. “Selama bekerja, selama itu pula saya bolak-balik Jakarta-Bogor, mungkin karena fisik saya yang lemah saya jadi mudah sakit dan waktu itu general manager di hotel Grand Hyatt memberikan saya kesempatan untuk pensiun dini,” kenangnya.

Utari pun mengaku amat menyesal karena selagi dapat bekerja dengan penghasilan tetap ia tidak mengelolanya dengan baik. Apalagi, sejak tiga tahun terakhir, suaminya sudah meninggal dunia. Imbasnya, ia tidak memiliki simpanan yang cukup untuk pendidikan anak dan tanggung jawab mengurus keluarga pun sepenuhnya ada di pundaknya.

Namun, bagi Utari, doa dan kepasrahan kepada Tuhan merupakan kunci untuk membuka jalan keberhasilan. Ia merasa menjadi pengemudi Blu-Jek adalah jalan yang benar-benar ditunjukkan untuknya.

“Semua seperti dibukakan jalan oleh Allah. Pertama, saya diberikan motor oleh majikan saya, lalu saya diberikan izin untuk menggunakannya untuk menjadi pengemudi ojek,” tutur Utari. Setelah itu, lanjutnya, pendaftaran di Blu-Jek pun amat mudah, tidak dipungut biaya administrasi apapun.

“Hanya biaya pembelian handphone yang dipungut, itupun dicicil sebesar Rp 36.000 per bulan. Kebetulan handphone saya juga rusak. Jadi ini benar benar direstui oleh Allah,” tutup ibu dua orang anak ini.

Kini tekad Utari makin kuat, langkahnya pun kian mantap, bekerja keras untuk membiayai pendidikan kedua anaknya. sumber : Dream