Puasa Tidak Sahur Dan Tidak Niat, Sahkah Puasanya…?


Assalamualaikum, ustadz mohon pencerahannya;
  1. Apa hukum puasa bagi orang yang tidak sahur dan tidak niat di malam hari? Mohon dijelaskan secara gamblang.
  2. Apakah ada kewajiban mengganti/qodho puasa bagi orang yang sengaja meninggalkan puasa Romadhan?
  3. Apakah ada amalan khusus bagi kita untuk menyambut kedatangan bulan puasa Ramadhan?
Atas penjelasan dari Ustadz kami ucapkan banyak terima kasih
Hamba Allah-di Sumenenp
JAWAB:
Kami dapat menjawab dengan tiga kelompok pertanyaan sesuai dengan yang diajukan:
1.  Terdiri dari dua pertanyaa; satu tentang puasa orang yang tidak sahur dan kedua puasa orang yang tidak niat di malam hari.
Jawabannya:
A. Sahur merupakan sunnah yang muakkad bagi yang berpuasa dengan dasar:
  • Perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk itu sebagaimana hadits yang terdahulu dan juga sabda beliau:
« تَسَحَّرُوْا فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةً »
“Bersahurlah karena dalam sahur terdapat berkah.” [1]
  • Larangan beliau dari meninggalkannya sebagaimana hadits Abu Sa’id  yang  berbunyi:
« السَّحُوْرُ أَكْلَةُ الْبَرَكَةِ فَلاَ تَدَعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَالْمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِيْنَ »
“Sahur adalah makanan berkah, maka jangan kalian tinggalkan walaupun salah seorang dari kalian hanya meneguk seteguk air, karena Allah  dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur.” [2]
Oleh karena itu, al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fath al-Bary (3/139) menukilkan ijmak atas kesunahannya.
Dengan demikian jelaslah orang yang tidak sahur baik untuk puasa wajib romadhan ataupun puasa-puasa sunnah tidak membuat tidak sahnya puasa. Hanya saja kehilangan keutamaan dan keberkahan makan sahur.
B. Adapun orang yang tidak makan sahur dan tidak berniat puasa di malam hari yang ditanyakan di atas dapat dilihat dalam dua keadaan:
-. Orang tersebut berpuasa wajib seperti Romadhan. Orang yang berpuasa romadhan tanpa berniat di malam harinya dan tidak makan sahur maka puasanya tidak sah berdasarkan sabda Rasulullah :
« مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ »
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa sebelum fajar, maka tiada baginya puasa itu.”[3]
Kewajiban berniat puasa pada malam hari khusus untuk puasa wajib saja.
-. Orang tersebut berpuasa sunnah seperti senin dan kamis atau yang lainnya. Para ulama memandang tidak wajibnya berniat di malam hari dalam puasa sunnah, sehingga diperbolehkan berniat setelah terbit fajar sampai sebelum tergelincirnya matahari (waktu Dzuhur) dengan syarat ia belum makan/minum sedikitpun sejak Subuh. Bahkan ulama mazhab Hambali, untuk puasa sunat, membolehkan berniat setelah waktu Dzuhur. Hal ini berdasarkan hadits ‘Aisyah yang berbunyi:
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا، قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ذَاتَ يَوْمٍ «يَا عَائِشَةُ، هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟» قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا عِنْدَنَا شَيْءٌ قَالَ: «فَإِنِّي صَائِمٌ»
Dari ‘Aisyah ummul mukminin –Radhiyallahu anha- berliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku di satu hari: Wahai ‘Aisyah apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)? Aku menjawab: Wahai Rasulullah ! Kita tidak memiliki apa-apa. Maka beliau berkata: Saya berpuasa. (HR Muslim).
Puasa orang yang tidak berniat di malam hari dan tidak makan sahur hukumnya sah apabila belum makan dan minum serta melakukan pembatal puasa sebelum berniat puasa sunnah tersebut.
2.  Tentang  kewajiban qadha orang yang sengaja meninggalkan puasa Romadhan.
Para ulama bersilang pendapat dalam masalah ini. Yang rojih sebagaimana dirojihkan Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin adalah wajib bertaubat dan tidak wajib mengqadhanya. Dasar pendapat ini adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada perintah kami atasnya maka dia tertolak. (HSR Muslim).
Dari hadits ini para ulama mengambil kaedah: Semua ibadah yang memiliki waktu tertentu, apabila diakhirkan hingga keluar waktu tersebut tanpa udzur maka tidak akan diterima.
Sudah dimaklumi bahwa mengakhirkan ibadah hingga keluar waktunya tanpa udzur syar’i adalah amalan tanpa dasar perintah syariat atasnya sehingga tertolak.
Oleh karena itu orang yang meninggalkan puasa wajib secara sengaja maka wajib baginya bertaubat dan memperbanyak amalan shalih dan tidak wajib mengqadha puasanya.
3.   Tentang amalan khusus menyambut ramadhan
Tidak ada amalam khusu menyambut kedatangan Romadhan  kecuali persiapan dalam menentukan awal romadhan. Yaitu:
a. Menghitung Bulan Sya’ban
Salah satu bentuk persiapan dalam menghadapi Ramadhan yang seharusnya dilakukan oleh kaum muslimin adalah menghitung bulan Syakban, karena satu bulan dalam hitungan Islam adalah 29 hari atau 30 hari sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Ibnu Umar, beliau bersabda:

« الشَّهْرُ تِسْعٌ وَعِشْرُوْنَ لَيْلَةً، فَلا َتَصُوْمُوْا حَتَّى تَرَوْهُ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا الْعِدَّةَ ثَلاَثِيْنَ »

“Satu bulan itu 29 malam. Maka jangan berpuasa sampai kalian melihatnya. Jika kalian terhalang (dari melihatnya), maka genapkanlah 30 hari.”[4]
Maka tidaklah kita berpuasa sampai kita melihat hilal (tanda masuknya bulan). Oleh karena itu, untuk menentukan kapan masuk Ramadhan diperlukan pengetahuan hitungan bulan Syaban.
b. Melihat hilal Ramadhan (Ru’yah)
Untuk menentukan permulaan bulan Ramadhan diperintahkan untuk melihat hilal, dan itulah satu-satunya cara yang disyariatkan dalam Islam sebagaimana yang dijelaskan oleh an-Nawawi dalam al-Majmu’ (6/289-290) dan oleh Ibnu Qudamah dalam Al-Mughniy (3/27). Dan ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah yang berkata, “Kita sudah mengetahui dengan pasti bahwa termasuk dalam agama Islam beramal dengan melihat hilal puasa, haji, atau iddah (masa menunggu), atau yang lainnya dari hukum-hukum yang berhubungan dengan hilal. Adapun pengambilannya dengan cara mengambil berita orang yang menghitungnya dengan hisab, baik dia melihatnya atau tidak, maka tidak boleh.” [5]
Kemudian perkataan beliau ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Sedang munculnya masalah bersandar dengan hisab dalam hal ini baru terjadi pada sebagian ulama setelah tahun 300-an. Mereka mengatakan bahwa jikalau terjadi mendung (sehingga hilal tertutup ) boleh bagi orang yang mampu menghitung hisab untuk beramal dengan hisabnya itu hanya untuk dirinya sendiri. Jika hisab itu menunjukkan rukyah, maka dia berpuasa, dan jika tidak, maka tidak boleh.[6] Lalu, bagaimana keadaan kita sekarang?
Adapun dalil tentang kewajiban menentukan permulaan bulan Ramadhan dengan melihat hilal sangat banyak, di antaranya adalah:
Hadits Abu Hurairah, beliau berkata, “Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَ أَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ، فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوْا شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ »

“Berpuasalah kalian karena melihatnya dan berbukalah kalian (untuk idul fithri) karena melihatnya. Jika (hilal) tertutup oleh mendung, maka sempurnakanlah Syakban 30 hari.” (Riwayat al-Bukhariy dan Muslim).
Hadits ‘Adi bin Hatim, beliau berkata, “Rasulullah bersabda,
« إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا الْهِلاَلَ قَبْلَ ذَلِك
“Jika datang Ramadhan maka berpuasalah 30 hari kecuali kalian telah melihat hilal sebelumnya.” [7]
Demikian amalan yang seharusnya dilakukan seorang muslim dalam menyambut Romadhan dengan selalu melatih diri beribdaah dengan baik sebelum Romadhan agar di Romadhan bisa lebih baik dan banyak lagi.


[1] Riwayat al-Bukhariy dan Muslim.
[2] Riwayat Ibnu Abu Syaibah dan Ahmad.
[3]Riwayat Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Baihaqy dari Hafshah binti Umar.
[4]  Riwayat al-Bukhariy
[5] Lihat: Majmu’ al-Fatawa 25/132.
[6] Lihat: Majmu’ al-Fatawa  25/133
[7] Riwayat ath-Thahawy dan ath-Thabrany dalam al-Kabir 17/171, dan dihasankan Syaikh al-Albany dalam Irwa’ al-Ghalil nomor hadits 901.


Sumber http://klikuk.com/puasa-tidak-sahur-dan-tidak-niat-sahkah-puasanya/