Ssstt..Ssstt!!! Inilah Rahasia Menyelesaikan Hutang Segunung, Amalkanlah Doa Berikut Ini Agar Hutangmu Terbayarkan!




Rahasia Menyelesaikan Hutang Segunung 
TIPS dari USTADZ YUSUF MANSYUR dan Berbagai Sumber’’

Allahu Akbar, Allah itu Maha Besar. Dia jelas lebih besar daripada “hutang kita”. Kenapa kita tidak melirik kepada Kebesaran-Nya ini? Dan harus libatkan 
dulu Allah dalam segala urusan kita dengan mendekatkan kepada NYA.
Dewasa ini hutang merupakan penyakit sosial, dan penyakit massal. Dikatakan demikian, sebab nyatanya hampir lebih dari separuh penduduk, punya hutang!
Hutang riil, bukan hutang negara. Di antara para penghutang, ada yang hutangnya seolah tak terbayarkan karena setinggi gunung.
 Ada juga yang tak terbayarkan karena tidak tahu dengan apa hutang bisa dibayar. Tapi ada juga para penghutang yang berkategori aman Alias penghasilannya masih cukup buat bayar hutang. 
Bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin,kalau Allah sudah berkehendak semuanya akan di permudah
Allah berfirman dalam surat Al-maidah surat 12 yang artinya : Sesungguhnya Aku Allah beserta kamu,sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat,menunaikan zakat,serta beriman kepada Rosul-Rosul-KU dan kamu bantu mereka lalu kamu pinjamkan kepada Allah dengn pinjaman yang baik,sesungguhnya kamu akan Aku masukan kedalam surga yang mengalir air di dalamnya sungai-sungai,maka barang siapa yang kafir di antara kamu sesudah itu,sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus

Surga di dunia itu bisa berupa kita sehat,kita bisa melunasi hutang,hajat cita-cita tercapai,rumah tangga harmonis,kita menjadi sukses segala-galanya dan lain-lain,

Sementara jika kita ingkar ,tidak percaya Allah akan menolong kita,maka neraka bagianya,neraka di dunia itu bisa berupa,Hidup kita susah mulu,rezeki sempit,tidak kunjung sembuh penyakit kita punya,rumah tangga berantakan,Usaha yang kita rintis jadi bangkrut,rumah di sita,kita di penjara dan lain-lain

Rasulullah saw. bersabda, Setiap hari di mana para hamba memasuki waktu pagi, ada dua malaikat yang turun. Satu di antaranya berkata, Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfak sodakoh (menggunakan harta untuk ibadah, untuk kepentingan keluarga, tamu, bersedekah dan sebagainya).Sedangkan yang satu lagi berkata, Ya Allah, berikanlah kerugian kepada orang yang tidak mau berinfak sodakoh.

Sepuluh Hal Yang Bisa Meringankan Beban 
beban memang berat bila dibawa sendirian. makalibatkandan berbagilah dengan Allah. Tulisan kali ini, khusus untuk Anda yang hutangnya besar, atau sangat besar. Apalagi kalau kemudian Hutang-hutang Anda ini membuat leher Anda begitu tersekat. Karena ini pernah terjadi pada Luqman; tokoh utama dalam Wisata Hati yang kehidupannya dijadikan media pembelajaran dan tadzkirah. Dan Luqman bisa sedikit meringankan bebannya dengan menerapkan strategi berikut ini.
Sekedar catatan, bagi Anda yang tidak memiliki hutang, tapi memiliki permasalahan lain,  cara-cara yang akan dipaparkan ini bisa juga Anda pakai.Sesuaikan saja dengan keadaan permasalahan yang sedang terjadi. Kepada Allah jua kita hdapkan permasalahan hidup dan kehidupan kita.
   
1. Pahami pesan permasalahan dan mohonkan ampun atas kesalahan dan keburukan serta dosa yang pernah kita perbuat.
Sikapi dulu, pahami dulu, kenapa sampai hutang muncul dan membesar. Bila ini ada kebiasaan dari sifat yang kepengen senang tanpa perjuangan (instan), minta ampun dulu. Hal ini sama saja dengan cara menghadapi permasalahan yang lain selain hutang. Yaitu dengan memohon ampun setelah melakukan pemuhasabahan [pengkoreksian diri]. (Silahkan Pembaca membaca buku “Wisata Hati Ujian atau Azab; Ketika Permasalahan Terhidang”, untuk melengkapi pemuhasabahan). 
Pahamilah, bahwa kesempitan hidup bisa muncul,sebabnya adalah kita jauh dari kita punya Tuhan, jauh dari Allah; Mungkin shalat kita belang belentong, kita tiada hormat sama orang tua,banyak salah sama istri atau suami, kita tidak sayang sama keluarga,kita tiada menghormati hak tetangga, kita mudah menzalimi orang,kita suka memfitnah, kita boros,serakah, kita bekawan sama teman-teman yang jauh dari Allah, dan hal-hal negatif  lainnya yang menandakan kita sudah jauh dari Allah; “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku,maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit…”(Thâha: 124). 
Salah satu rasanya neraka di dunia adalah bentuk kesempitan hidup adalah adanya hutang yang tidak terbayar atau piutang yang tidak kunjung tertagih. Bentuk kesempitan yang lain adalah apapun bentuknya yang dirasakan sebagai kesusahan oleh manusia pada umumnya; seperti penyakit yang menahun, kemiskinan yang penuh dengan duka dan derita, kebangkrutan yang menghempaskan kita dari kehidupan normal, hilangnya pekerjaan, rumah tangga yang tidak sakinah akhirnya berujung dengan perceraian lalu anak lah yang menjadi korban, dan sebagainya. Maka untuk mengubah keadaan menjadi baik, atau menjadi lebih baik dari sebelumnya, perlu kiranya kita melayangkan permintaan maaf dulu kepada Allah „azza wa jalla; “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.Mudah-mudahan Allah akan menutup kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”(at Tahrîm: 8)

Andai hutang adalah akibat kesalahan, maka dengan diawali permohonan ampun kepada Allah, insya Allah,berdasarkan ayat tersebut, kesalahan tersebut akan ditutup oleh Allah. Dan surga yang disebut di ayat tersebut bisa kita terjemahkan ke pengertian suasana yang penuh dengan kenikmatan. Bukankah kenikmatan adanya bila ketenangan kembali menghiasi hidup? Bukankah kenikmatan adanya bila hutang bisa terbayar? Bukankah kenikmatan adanya bila hidup kembali normal, dengan keluarga bisa ngumpul, tidak lari-larian terus? Surga adalah kenikmatan. Dan kita kejarlah surga dunia dengan memohon ampun kepada Allah. Untuk tahap awal, dan sekaligus sebagai riyadhah (latihan), biasakanlah dulu mengucap kalimat istighfar (astaghfirullâh);
“Barangsiapa yang membiasakan diri beristighfar, Allah akan mencarikan jalan keluar bagi kesulitannya, menjadikan kelapangan bagi kesempitannya, dan memberikannya rizki dari hal-hal yang tidak pernah dia duga sebelumnya” (al Hadits).

2. Pupuk kembali keimanan dan perbanyak amal kebaikan. Setelah memohon ampun, lanjutkan terus dengan kembali beriman dan beramal saleh (untuk menebus kesalahan). Saudara, permohonan ampun sangat terkait dengan perbaikan hidup, perubahan kualitas hidup. Tapi sekedar memohon ampun, jelas tidak cukup. Ini didasarkan pada surah al Furqân: 70; “(Akan ditambahkan kesusahannya kelak di hari kiamat, dan akan dihinakan) kecuali orang-orang bertaubat (yang menghentikan langkah buruknya), beriman, dan beramal saleh. Mereka inilah orang-orang yang keburukannya digantikan Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  
Keburukan bagi yang berhutang, kan, tidak bisa bayar hutangnya. Maka, awali dulu dengan permohonan ampun. Tapi sebelum diubah keadaannya, pupuk iman supaya bisa melakukan amal saleh yang bisa mengimbangi keinginan dan masalah kita.  Sekarang coba kita perhatikan redaksi ini “kecuali mereka yang bertaubat, beriman dan beramal saleh…”.  Kenapa di antara kewajiban amal saleh dan taubat, ada kalimat beriman? 
Karena perlu iman untuk melakukan amal saleh, tanpa iman, amal saleh tidak dianggap, ia pun menjadi dorongan agar kita kudu percaya; dengan kita melakukan amal saleh, maka keburukan kita akan diubah menjadi kebaikan. Semakin besar kepercayaan kita sama Allah, maka akan semakin besar juga amal kita. Kira-kira begitu, insya Allah.

Dan kenapa juga iman dan amal saleh harus didahului taubat? Karena tanpa bertaubat dulu, iman dan amal saleh tidak akan bisa “bunyi”, tidak akan punya pengaruh bagi perbaikan hidup. Minta ampun dulu, pupuk keimanan,dan berjuanglah memupuk amal saleh. Lagipun kata Allah dan Rasul-Nya, kebaikan akan menghapus keburukan.

3. Kembangkan pikiran positif dan jangan biarkan pikiran negatif bermain. Jangan biarkan pikiran negatif bermain. Paling tidak hibur diri dengan pikiran-pikiran positif. Ini perlu latihan.Setidaknya coba lihat apa yang masih tersisa di hidup dan kehidupan kita. Kita punya hutang, tapi masih bisa berlari,karena punya kaki. Bagaimana mereka yang tidak punya kaki. Terus lagi misalnya, kita punya hutang besar, dan agak-agak mustahil ga kebayar, tapi kita masih dikasih mata, lumayan. Intinya mengembangkan kepositifan berpikir. (Lihat juga judul-judul yang sifatnya memotivasi seperti judul “Urusan Allah”,
 atau Pembaca bisa membaca buku Wisata Hati yang berjudul “Membangun Harapan dan Optimisme”). 
Jujur saja, memang kita seringkali dipenjara oleh pemikiran negatif kita sendiri. Kita menganggap kesusahan yang terjadi sudah seperti neraka, dan seakan kita sudah mengalami apa yang dinamakan kiamat. 
Berikut ini beberapa contoh pemikiran negatif:  
• Dalam posisi berhutang, kita ketakutan ditagih.Padahal kalau dihadapi baik-baik   
   pun orang juga akan baik juga. Dan biasanya akan ada jalan keluarnya. 
• Kita memenjarakan diri kita dengan pemikiran negatif bahwa hutang kita 
   tidakakan mungkin pernah bisa terbayar. Siapa bilang? Kan ada Allah dengan 
   Segala Keajaiban-Nya? Jangan menyerah dulu dengan keadaan. Ingat, kondisi 
   negatif pertama kali dibentuk oleh pikiran-pikiran negatif. 
• Kita menganggap hidup kita berantakan. Ini juga sering bermain di dalam pikiran 
  kita. Kita menganggap hidup kita sudah “finish”, sudah berakhir. Akhirnya kita 
  mati langkah sendiri, hanya mengurung diri di kamar, tanpa mampu berbuat 
  sesuatu yang bermanfaat. Bila sudah begini, yang sering terjadi adalah kita seperti 
  sedang menghitung hari kematian. Deg-degan terus, sementara kita hanya 
  berdiam diri saja. Oleh karenanya, penting sekali mengembangkan pikiran – 
  pikiran positif.  
Tapi memang, orang-orang salah mah, sudah ketetapan Allah mereka ketakutan dengan kesalahan-kesalahannya apabila ditampakkan Allah; 
“Kamu lihat orang-orang yang zalim ketakutan dengan keburukan-keburukan yang telah mereka lakukan. Sedang akibat buruk perbuatan buruk biar bagaimanapun juga tetap akan menimpa mereka…” (asy Syûrâ: 22). 
Tapi insya Allah, dengan iradah Allah, semua hal yang buruk-buruk segera digantikan dengan yang baik-baik. Dan ini sekali lagi bisa kita dapatkan dengan memohon petunjuk Allah, ampunan serta rahmat-Nya. Semoga tulisan ini benar-benar membawa manfaat, bukan hanya buat saudara, tapi juga buat saya dan keluarga

4. Pikirkan kemampuan Allah, kuasa Allah. Jangan membatasi diri dengan kemampuan diri. 
Pikirkan kemampuan Allah, bukan ketidakmampuan diri sendiri. Ini penting, sebab kita sering jadinya putus asa, manakala kita sadar bahwa tidak ada satupun yang kita bisa lakukan untuk menutup hutang. Kalau Kuasa Allah kan tidak berbatas dan tidak bertepi. Beda dengan kuasa kita,langkah kita, yang ada mentoknya. Yang harus kita lakukan sementara kita tidak punya kemampuan, adalah kita secepatnya kembali kepada Allah, dan meminta Kuasa-Nya hadir di dalam kehidupan kita. 

Urusan hutang terlalu kecil bagi Allah mah. Kalau Dia sudah berkenan, bukan saja hutang kita akan lunas, tapi juga kehidupan kita akan kembali dibangkitkan oleh Allah, usaha kita kembali dijayakan,rumah tangga kembali
diharmoniskan,pekerjaan kembali diberikan, ketenangan kembali dihadirkan. Dan mampukah Allah? Pasti mampu. Dia pasti mampu. Dan ini pasti, tidak perlu diragukan lagi. Oleh karena  itu pupuk iman kita,bahwa kita percaya 100% Allah akan menolong hambanya yang ingin bertaubat.

5. Yakinkan diri bahwa Allah Maha Menolong. Pikirkan Allah itu Maha Menolong. Tinggal sekarang kita berupaya agar pertolongan Allah hadir dalam kehidupan kita, dalam permasalahan kita. Saudara, yang harus kita kuatirkan dalam setiap usaha kita dalam membayar hutang dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan lain adalah jangan-jangan pertolongan Allah tidak ada. Sebab tidak mungkin yang namanya “susah” tidak mau pergi kalau Allah sudah berkenan menolong. Minimal, ketika permasalahan masih ada, kalau Allah sudah berkenan menolong, Dia akan menghadirkan ketenangan dan kedamaian di hati. Hidup kita tidak tegang, tidak panik.

6. Percaya bahwa Allah bakal menolong. Usahakan menanamkan keyakinan bahwa Allah itu bakal menolong kita. Dengan begini, kita akan merasa aman. Sebab sudah ada sandaran. Kita pikirkan, kalau hutang kita ada yang menjamin, bukankah kita bakal tenang? Pikirkan, bila terhadap penyakit kita, ada yang bilang, ah, penyakit ini sih penyakit biasa, insya Allah bisa sembuh; maka hati kita langsung senang, langsung tenang? Demikianlah, kalau kita menyandarkan diri kita kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia Yang Maha Menolong mau menolong kita, sungguh, ketenangan dan kedamaian akan hadir. Insya Allah. Dan yang tidak kalah pentingnya, jaga sikap, jaga hati, jaga pikiran. Ini kalau kita semua mau ditolong oleh Allah.Maksudnya, jadikan diri kita pantas ditolong oleh Allah; Barangsiapa yang bertakwa (memelihara diri) kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal (menyerahkan diri dan persoalan hidup) kepada Allah, niscaya Dia akan mengurusnya ‘’ath Thalâq: 2-3).
7. Percaya bahwa Allah hanya menghadirkan hal-hal yang mudah dan hanya akan mempermudah.
Pikirkan bahwa Allah itu hanya menghadirkan hal-hal yang mudah saja. Tidak pernah menghadirkan hal yang sulit.Yang sulit mah kita. Kita bahkan menambah sulit diri kita dengan memelihara kekhawatiran dan ketakutan. Jadi, upayakan agar Kehendak Allah muncul dalam kasus hutang piutang kita. Mengupayakan kehendak Allah itu adalah dengan mengetahui dengan cara apa dan berusaha mendekati Allah sehingga Dia berkenan kepada kita; “… Allah hanya menghadirkan kemudahan bagi kamu,tidak menghendaki kesukaran bagi kamu…” (al Baqarah: 185) 

8. Jangan mengambil langkah yang salah dan hanya menambah
    permasalahan. 
Panik hanya kepada Allah. Jangan panik lalu mengambil langkah-langkah yang menambah runyam keadaan. Mengatasi hutang dengan hutang baru tanpa ada pijakan bayarnya adalah salah satu contoh kepanikan, menurut pengalaman saya. Jangan coba-coba menutup masalah dengan menghadirkan permasalahan yang lebih besar.
Apalagi sampai Berpaling kepada selain Allah (meminta bantuan paranormal, dukun-dukun, kyai-kyai kurafat, kyai-kyai musyrik) akan menyebabkan Anda akan semakin jauh dari Allah. Langsung saja menghadap Allah, dengan jalan shalat dan sabar. Meski demikian, tidak salah minta doa dari orang yang Anda anggap alim, tidak salah minta nasihat dari pemuka-pemuka agama yang masih menjaga kehormatan dan kemuliaan agama Allah.
9. Perbaiki ibadah dan tingkatkan usaha. 
Tingkatkan usaha, perbaiki ibadah dan doa. Untuk Anda yang muslim, terutama rajinin bangun malam untuk shalat tahajjud, dan pada pagi harinya shalat sunnah Dhuha ,sholat sunat Qobliyah dan Ba’diyah,mengiringi shalat fardhu. Supaya pintu keberkahan dari langit bertambah terbuka.

Kalau mengambil nasihat dari Aa Gym, luruskan niat dan sempurnakan ikhtiar. Percayalah, bila Anda berhutang, dan Anda memang berniat untuk membayar, maka Allah akan hadirkan kemudahan-kemudahan bagi Anda. Dan hal ini juga menjadi ibadah tersendiri. Insya Allah.

10. Pasrahkan kepada Allah. Memasrahkan diri kepada Sang Maha. Kalaupun akhirnya ada masa sulit yang memang harus mampir dalam kehidupan kita, terima saja. Yang penting kita tahu bahwa Dia sedang melihat kita dan tetap akan memperhatikan kita. Kita pasrahkan kejadian masa depan hanya kepada-Nya. Dan kadang-kadang kejadian tidak seburuk bayangannya koq. Udah waktunya berlalu mah, ia akan berlalu. Pagi saja berganti malam, tidak pernah pagi terus atau malamterus. Sekali lagi, yakinkan diri akan Kuasa Allah. Insya Allah,ada saja jalan bagi kita, termasuk jalan keluar untuk hutang-hutang kita. 

Membayar Hutang Lewat Jalan Sedekah 

Kebesaran Allah selalu lebih besar daripada semua permasalahan yang kita hadapi. Lalu kemudian yang kita perlukan adalah menghadirkan kebesaran Allah dalam proses penyelesaian masalah yang kita hadapi. 
Sebenarnya ada satu lagi cara yang sangat-sangat efektif untuk bebas dari segala kesulitan, termasuk urusan hutang yang tidak terbayarkan. Caranya banyakin nolong orang, banyakin sedekah. Ketika kita menemukan kesulitan muncul dalam kehidupan kita, apapun namanya, apapun bentuknya, bersegera saja mencari orang-orang yang lebih sulit dari diri kita. Bersegera saja mencari orang-orang yang lebih susah, lebih menderita daripada beban yang kita pikul. Bila perlu, korbankan banyak (jangan sedikit) apa yang kita punya supaya mantap do’a dan usaha kita. Kalaupun kita engga punya uang, tapi kita masih punya aset barang, jual saja barangnya, lalu sedekahkan.