Di Malam Saat Takziah Di Rumah Eno Parinah, Warga Menemukan Seberkas Kertas Pesan Untuk Ibunya!


Firasat seorang ibu kepada anaknya, memang tak diragukan lagi. Sebelum meninggal, Ibu Eno Parinah, sempat memiliki firasat-firasat yang aneh dari hari-hari biasanya.

Mahfudo adalah Ibu Kandung Eno Parinah. Dari dalam rumahnya dia mulai menceritakan firasatnya sebelum mendengar kabar kematian buah hatinya.

Menurut Mahfudoh, pada malam pemerkosaan dan pembunuhan Eno Parinah, suasana di rumahnya mendadak sepi.Meski merasa ada keanehan pada malam pembunuhan Eno Parihah, Mahfudoh tak terlintas bahwa sesuatu akan terjadi pada anaknya. Namun Setelah keesokan harinya, Saat mendengar kabar anaknya dibunuh secara sadis dengan gagang pacul ke alat vital, Sang Ibu baru sadar, bahwa suasasan heningnya pada malam itu tak lain adalah isyarat akan kepergian anaknya.

Nyanyian jangkrik tak terdengar, Suara Katak tidak jua berdengung, Seolah mereka berduka pada malam itu. Seolah mereka ingin memberitahukan kejadian yang menimpah Eno.

“Sebelum tahu kabar itu suasana di sini sepi, enggak ada suara apa-apa. Biasanya kan ada suara jangkrik, kodok, tapi ini enggak ada,” ujar Mahfudoh di rumahnya, Desa Pegandikan, Kecamatan Lebakwangi, Serang, Banten, Sabtu (21/5/2016). Seperti diberitaka pojoksatu (Group Fajar) hari ini.



Esok harinya, tepatnya pada Jumat (13/5), Mahfudoh mendapat kabar dari teman Eno Parinah. Teman Eno mengabarkan jika anaknya sudah tiada.

Mahfudoh pun langsung berangkat menuju ke rumah sakit temat jenazah Eno Parinah diotopsi. Awalnya, Mahfudoh mengira anaknya meninggal karena kecelakaan lalulintas. Mahfudoh baru tahu anaknya menjadi korban pemerkosaan dan pembunuhan sadis saat tiba di rumah sakit.

“Nggak nyangka, Eno itu orang baik, pacaran aja belum pernah, kejam sekali pelakunya, ibu enggak terima,” imbuh Eno Parinah.

Eno Parinah dibunuh secara sadis oleh tiga pelaku, yakni Rahmat Arifin, Imam, dan siswa SMP berinisial RA (15). Pelaku membunuh Eno Parinah dengan menusukkan gagang cangkul ke dalam kemaluan korban hingga tembus ke bagian hati dan paru-paru Eno Parinah.

Foto CT scan gagang cangkul terlihat merusak alat vital, paru dan merobek hati Eno Parinah.

Direktur Reskrimum Polda Metro Jaya Kombes Krishna Murti, mengatakan, sejak dirinya menjadi polisi dan menangani kasus pembunuhan, kasus Eno yang paling sadis.

“Selama saya menangani kasus pembunuhan, ini yang paling sadis,” ujar Krishna Murti, Kamis (19/5/2016) lalu. (one/pjk1/fajar)