Status Facebookmu ya Harimaumu!


Status Facebookmu ya Harimaumu!




Ada yang menarik perhatian saya ketika membuka laman facebook milik saya pagi ini. Disalah satu status teman saya, ada screenshot yang disertakan mengenai komen dari seorang facebooker yang menghina kepala negara yaitu Bapak Presiden Jokowi. Sekilas saya membaca status tersebut dan langsung merasa miris karena isinya sangat tidak sopan. Jangankan kepada kepala negara, kepada seorang manusia pun tidak akan ada orang yang menyukai nada sadis seperti itu.



Saya yakin anda tertarik melihat pemilik account tersebut, ini dia:https://www.facebook.com/dudi.hermawan.526. Tujuan saya bukan untuk mengekspos buat di bully, tapi lebih kepada memperlihatkan kepada anda untuk dipelajari latar belakang dari pengirim status tersebut.

Supaya artikel ini memiliki dasar bukti saya sertakan link facebook dimana anda juga bisa membaca beberapa netter yang berkomentar:
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=621422361333791&set=a.103482499794449.4711.100003980979311&type=1&theater

Mengapa Terulang Terus?

Yang menjadi pembahasan saya disini adalah: mengapa hal seperti ini terulang kembali? Apakah masih kurang berita tentang penghinaan dan caci maki yang akhirnya berujung kepada masalah yang lebih besar? Masih ingatkah anda tentang penghinaan seorang mahasiswi S-2 di Yogya? Tidak hanya penghinaan yang dibuat individu saja, tapi beberapa media online pun sampai harus meminta maaf karena turut memberikan berita yang tidak valid sehingga menimbulkan banyak perdebatan yang sebenarnya tidak perlu dan hanya menghabiskan energi serta waktu yang sia-sia saja.

Saya bukanlah seorang ahli psikologi dan analis kejiwaan, jadi saya tidak merasa berhak menganalisa latar belakang lebih lanjut dari si pengirim status penghinaan tersebut.

Saya juga bukanlah seorang pendukung dari Presiden Jokowi yang fanatis. Ada beberapa kebijakan dari pemerintahan Jokowi yang kurang saya setujui, namun saya adalah seorang warga negara Indonesia yang berkewajiban dan juga berhak menghormati kepala negara saya sendiri. Beberapa ketidaksetujuan saya bahas dengan teman-teman dekat, bukan karena saya takut membeberkannya kepada publik, tapi lebih karena saya merasa tidak semua pendapat saya harus diekspos kepada publik.

Belakangan ini saya melihat trend yang semakin besar di kalangan netter untuk mencaci maki, menghujat siapapun atau apapun event yan tidak disukainya. Saya juga sering melihat kebanyakan didasarkan kepada kebencian yang sering tidak beralasan. Sering pula karena didasarkan berita yang tidak valid bahkan banyak yang sudah dimodifikasi.

Karena saya bukan analis intelijen, analis ekonomi, analis konspirasi, maka saya tidak akan banyak berkomentar mengenai hal itu. Lagian akan menjadi debat yang tidak berkesudahan jika saya memberikan beberapa opini yang "sensitif" bagi kebanyakan orang disini.

Yang saya bahas disini adalah trend yang terjadi dikalangan netter dan melihat pola baru yang muncul. Setidaknya sebagai pengamat bidang IT saya memiliki dasar analisa dan skill yang mendukung. Itu saja mungkin belum cukup dan masih bisa mengundang kritik dari para pembaca.

Tapi izinkan saya berkomentar sedikit mengenai hal ini. Saya melihat hal ini terulang kembali lebih mirip dengan gejala anjing yang suka mengejar ekornya sendiri. Sampai bisa menggigit ekornya, anjing tersebut tidak akan berhenti berusaha. Saya menganalogikan bahwa trend anak bangsa yang menyakiti anak bangsa yang lain ya seperti analogi itu. Lupa mereka bahwa yang mau digigit itu adalah bagian dari dirinya juga. Sampai akhirnya terluka maka barulah sadar kalau yang rugi juga adalah dirinya sendiri.

Gejala Bertindak & Melawan

Menariknya lagi, tidak semua netter yang tidak setuju dengan caci maki tadi malah membalas dengan makian. Sebagian memang emosi dan membalas tapi saya lebih tertarik kepada beberapa tindakan yang mulai digalang oleh netter yang lain.

Dengan adanya UU ITE dan beberapa situs resmi dari yang berwewenang, kini sudah menjadi lebih mudah untuk melaporkan hal penghinaan seperti ini. Ini salah satu tindakan langsung dari seorang netter yang melaporkannya kepada yang bersangkutan.



Mungkin setelah melihat reaksi dari netter, si pemilik akun Dudi Hermawan segera menghapus status tersebut karena ada netter yang melaporkan bahwa postingan status yang berisi cacian tadi tidak ada lagi.





Nah, apapun alasan penghapusan ini, sebenarnya dari awal tidak perlu membuat postingan seperti ini. ketidaksenangan dan ketidaksetujuan kita terhadap seseorang atau kondisi tidak selalu diluahkan dengan caci maki. Malah yang menjadi blunder bagi si pemilik akun adalah latar belakang akademik dan religinya yang menjadi bahan serangan dari netter lain.

Kalau diambil dari pepatah lama dimana dikatakan mulutmu adalah harimaumu, maka saat ini lebih tepat disebut status facebookmu adalah harimaumu, atau malah bisa lagi divariasikan dengan twitter, dll.

Tidak selamanya jaringan pertemanan kita akan paham, setuju dan mendukung semua status dan perkataan kita. Seharusnya dari awal kita selalu menjaga dampak balik dari perkataan (juga tindakan) yang kita buat bukan?

Lebih Baik Diam?

Saya tidak menyatakan demikian. Jika anda yakin dengan apa yang anda yakini, maka katakanlah. Kalau yang anda yakini itu adalah kebenaran menurut anda ya sebarkan saja. Saya setuju dengan hal itu. Tapi saya kira anda semua juga setuju kalau semua dilakukan dengan beberapa ktriteria bukan?
Berikan bukti
Berikan argumentasi
Jangan mencaci maki

Poin 1 dan 2 bebas menurut apa yang anda dapatkan dari berbagai sumber dan semua yang anda yakini. Saya juga tidak apriori dengan debat kusir walau terkesan membuang waktu. Terkadang tidak mudah mendapatkan titik pemahaman bersama, jadi jangan terlalu memaksakan harus dalam waktu singkat.

Tapi poin ke-3 adalah kunci utama yang perlu anda jaga. Biarpun lawan debat anda sudah main kasar, tidak perlu memaki dan mencacinya dengan alasan apapun. Kenapa? Ya seperti analogi anjing yang berusaha menggigit ekornya tadi. Tidak akan ada yang bermanfaat dari tindakan mencaci-maki tersebut selain kepuasan sesaat.

Tapi saya sendiri ragu juga dengan argumentasi saya mengenai kepuasaan sesaat karena saat ini yang saya lihat sangat banyak yang ketagihan untuk memaki dan mencaci dari berbagai pihak, agama, suku dan latar belakang yang berbeda. Kalau memang kepuasan sesaat kenapa banyak orang yang kejangkitan gejala yang sama ya?

Yah... tapi sudahlah. Saya juga bukan seorang pengamat yang profesional. Saya hanya bisa mengutaraka ketidaksetujuan saya dengan gaya memaki & mencaci via medsos seperti yang dilakukan oleh saudara Dudi Hermawan diatas dengan cara yang lebih santun dan berusaha menghindari caci-maki.

Poinnya adalah: orang akan bereaksi seperti reaksi anda. Kalau anda kasar maka tidak heran orang akan lebih kasar.

Penulis : Samuel Henry (Kompasiana)