Indonesia Heboh!! Mukidi Bikin Heboh Medsos Inilah Sosok Pencipta Mukidi yang Sedang Dicari - cari


Nama Mukidi berkesan sosok lugu, kampungan, atau mungkin ketinggalan zaman asal Jawa Tengah atau Jawa Timur; ketika di dunia yang sekarang, kita melihat anak-anak dari wilayah yang sama diberi nama Alexander, Viktor, dan sebagainya. Cerita-cerita Mukidi juga membaurkan kepolosan dan kesoktahuannya, yang bikin geleng-geleng kepala mengocok perut pembaca. Misalnya seperti di bawah ini.

Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.

Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.

Karena kini 17 Agustusan, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan “INDONESIA TETAP JAYA”.

Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dangan tulisan “INDONESIA TETAP MUKIDI”.

Image result for mukidi

Dari penelusuran Solopos, terungkap sudah siapa yang paling ‘bertanggungjawab’ atas lepasnya humor Mukidi ke tengah masyarakat. Dia adalah Soetantyo, pria kelahiran 7 Februari 1954. Pria yang pensiunan perusahaan farmasi, Boehringer Ingelheim ini, sudah menulis cerita-cerita tentang Mukidi sejak dekade 2000-an.

Dalam blog CeritaMukidi.Wordpress.com disebutkan, “Mukidi berasal dari Cilacap. tipikal orang yang biasa saja, tidak terlalu alim, mudah akrab dengan siapa saja. Punya karir tapi kadang-kadang bisa menjadi apa saja. Istrinya Markonah, juga punya karir tapi tidak terlalu istimewa. Anak mereka 2 orang, Mukirin yang sudah remaja dan Mukiran yang masih duduk di bangku SD. Sahabatnya adalah Wakijan.”

Lalu, apa alasan Soetantyo menggunakan tokoh Mukidi untuk cerita-cerita lucunya? Kepada Solopos, Soetantyo menerangkan ia memang sengaja menggunakan nama-nama tokoh ‘berbau’ Banyumasan.

Image result for mukidi

“Saya sengaja mengambil nama-nama Banyumasan … kebetulan saya berasal dari Purwokerto. Makanya ada nama Marto Kapiran, Karto Mlogo dan lain-lain. Mukidi ini sebenarnya nama yang pernah ngehits di tahun 1980-an karena pernah digunakan di salah satu film Warkop,” ujarnya.

BACA LAGI :




Kini cerita-cerita Mukidi, Markonah, Mukirin, dan Mukiran menjadi hits tersendiri, disebarkan di berbagai media, ditambah dengan guyonan-guyonan seputar asal-usulnya. Berikut ini cerita Mukidipaling legendaris (dalam bahasa Jawa) yang dijamin mengocok perut Anda.

Image result for mukidi

Mukidi (8 th) cah Klaten arep lungo, diterke simbokne nyegat bis.


Kernet bis: “Suroboyo, Suroboyo, bu?”


Simboke Mukidi: “Pak tulung nggih, mengke nek pun tekan Jombang, lare niki dikandani.


Kernet: “nggeh bu, tariiiikkk”


Nang terminal Solo Mukidi takon kernet bis, “Wes cedhak Jombang durung Lik ?”


Kernet: “Durung lee.. jek suwe”

Ora let suwe tekan Sragen, Mukidi takon maneh, “Wes tekan Jombang Lik ?”


Kernet: “Durung Lee…. jik uuuaduuooohh”


Mukidi bosen ora tekan-tekan. Akhire keturon. Bus terus mlaku arah Suroboyo. Ora kroso bis wes ngliwati Jombang. Kenek lali pesenane mboke Mukidi. Bareng kelingan, kernet langsung omong nang sopir, “Duuh kang, aku duso nang bocah kui, karo nuding Mukidi seng lagi turu nggleser.


Sopir: “Lho kenopo, to?”


Kernet: “Mau mboke nitipke, yen tekan Jombang bocahe tulung kandanono”


“Wah, lha piye kowe kui. Jombang wes kliwat adoh”, Jawab sopire, bingung.


Tujune sopire apikan, gelem balik nang Jombang. Sak wise njaluk persetujuan karo penumpang liyane, mergo mesakke karo si Mukidi. Sak wise bis tekan Jombang, Mukidi digugah.


Kernet: “Lee… tangi lee. Wes tekan Jombang, ki”, karo nggoyang goyang awakke Mukidi.


Mukidi njenggirat, “Wes tekan Jombang lik?”, Karo grusa grusu mbukak kantong, ngetokke sangune; sego sambel, lawuhe iwak asin.


Kernet takon, “Arep mudhun kene lee..?”


“Ora Lik….. wong aku arep nang Suroboyo. Mau simbokku pesen, sangune mengko dipangan nek wes tekan Jombang wae yo le”, jawab Mukidi karo muluk sego.


Kernet, sopir, lan kabeh penumpang muni bareng:
“WEDHUUUSS tenan cah iki…. tiwase mbaliiik!”