Teriring Doa Aku Melepasmu, Berlalulah Masa Laluku

Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabarmu. Tidak, sebenarnya aku yang menghindar untuk mendengar apapun tentangmu. Terakhir kulihat di laman sosial media, kamu bahagia bersama dia yang kini di sampingmu. Semoga memang benar apa yang kupikirkan itu.

Ini adalah hari ke seratus limapuluh sekian aku dan kamu tidak lagi bertegur sapa. Dan selalu saja aku masih bertanya hidup seperti apa yang saat ini kamu punya. Masih kah kamu menjadi orang yang sama? Yang dimana pun berada selalu menghadirkan tawa bagi orang di sekitarnya. Masihkah kamu mengejar mimpi yang sama? Yang dulu pernah kamu perjuangkan demi masa depan kita berdua. Masihkah kamu mengingatku, sedikit saja?







Aku tahu kini ada dia yang menemanimu. Dia yang mungkin mampu menerima semua kurang dan lebihmu. Dia yang kamu pilih untuk menggantikanku. Dia yang berhasil meyakinkanmu untuk berlalu setelah berjanji tidak akan pernah pergi dariku. Semoga dia pula lah yang mampu membimbing dan mendampingimu meraih semua yang kamu mau.

Ini adalah surat ke sekian puluh yang aku tulis tapi tidak pernah bisa kusampaikan padamu. Ini adalah rangkaian kata ke sekian ratus yang ingin kusampaikan tapi hanya berakhir tak bergerak di buku catatanku. Hingga sore tadi, aku mendengar sesuatu yang sejujurnya tidak pernah ingin kudengar mengenai kamu.

Esok hari, kamu akan mengikat janji di hadapan Tuhan untuk hidup bersama dengan wanitamu itu. Ada rasa sesak di dada yang tidak dapat kujelaskan dengan kata-kata, aku tidak tahu pasti bagaimana perasaanku waktu mendengar kabar itu. Aku terlalu sibuk mengatur napas yang kacau sekali iramanya dan detak jantungku yang berlarian sangat tak tentu. Aku bahkan tidak bisa lagi mengingat bagaimana rona wajahku, apakah aku tersenyum kaku, atau ada bulir-bulir yang jatuh dari kedua mataku.

Sebenarnya, dalam waktu yang kulalui tanpamu ini pun aku sudah menduga berita semacam ini hanya tinggal menunggu waktu kapan datangnya. Akhirnya memang dia yang kamu pilih untuk mendampingimu selamanya. Walau sebenarnya sejak kita masih bersama pun aku sudah bisa melihat pendar berbeda di matamu saat kamu menyebut namanya. Namun, ada semacam rasa tidak percaya yang datang jika akhirnya kamu menyandingnya dalam waktu yang begini cepatnya.

Jujur saja, aku pun masih enggan percaya jika dia lah yang berhasil mencurimu setelah kita punya banyak rencana, setelah semua perjuangan yang kita lalui untuk bisa bersama. Bagaimana pun juga aku pernah percaya bahwa padaku kamu benar-benar cinta. Tidak apa, toh kini memang tidak ada lagi kita. Kini hanya ada kamu dan dia di sana, sedangkan aku di sini masih duduk di tempat yang sama.

Dalam perenungan panjang yang kulakukan, aku pun sudah bertekad untuk menghapus namamu sepenuhnya. Selalu aku berpikir, jika pun suatu hari nanti kamu datang kembali, aku tidak akan lagi membuka hati. Sakit yang kulalui sudah mengajarkanku untuk kuat berdiri, maka tidak ada alasan bagiku untuk jatuh ke pelukmu lagi.


Meski aku tidak memungkiri jika rindu akan kenangan kita dulu benar-benar sering menyiksa hati, tapi itu tidak akan pernah menjadi alasan untukku menginginkan kita bersama kembali. Hanya saja, hari ini memang semua pergumulan dan tumpah ruah rasa yang tidak dapat kuungkapkan itu harus diakhiri. Hari ini, aku memutuskan berhenti.

Aku melepasmu, melepaskan semua angan tentang kamu, melepaskan semua rasa sakit yang terkadang masih datang mengganggu. Tidak akan ada lagi airmata yang tertumpah saat aku terbangun di tengah tidurku. Tidak akan ada lagi rasa tidak nyaman di telinga saat mendengar namamu. Aku melepasmu sebagai bagian dari diriku. Tidak akan lagi kubahas tentang cinta yang tersisa, karena meski ia ada, itu tidak ada lagi artinya.

Kusampaikan doa terakhirku untukmu, semoga kamu bahagia, meski kebersamaanmu dengannya kamu mulai dengan menyerak semua mimpi kita dan segenap keluarga, menggurat luka yang dalam menganga, menghancurkan semua rencana yang sudah kita susun bersama. Semoga dia memiliki cinta yang begitu besarnya, dengan kesetiaan yang tiada dua, dan paling hebat pula pendampingannya.

Jika saat ini tentangku kamu benar-benar lupa, tidak apa, karena itu memang sudah seharusnya. Namun jika sepuluh, duapuluh, atau tigapuluh tahun lagi kamu kembali mengingat namaku, ketahuilah bahwa perempuan ini lah yang pernah mencintaimu dengan begitu hebatnya. Perempuan ini lah yang pernah memperjuangkanmu tanpa peduli luka dan air mata. Perempuan inilah yang pernah mati-matian bertahan untukmu meski berkali-kali kamu menyakitinya.

Dan jika hari itu benar tiba, aku pasti sudah tidak lagi ada di tempat yang sama, karena Dia, Sang Maha Pendengar Doa tidak pernah menutup mata, untukku pun Dia pasti sudah menyiapkan cerita.

Berlalulah masa lalu, berlalulah semua luka di hatiku, berlalulah kisah terdalamku, pergilah, jemput bahagiamu. Aku pun akan menemui bahagiaku.


Teriring doa aku melepasmu, berlalulah masa laluku.

#melepaskan