Dimas Kanjeng Mengaku Jin yang Biasa Bantu Gandakan Uang Lari Saat Diserbu 600 Personel Polisi

Dimas Kanjeng Taat Pribadi, yang menjadi otak pembunuhan dua pengikutnya, Ismail Hidayat dan Abdul Gani, Rabu (28/9), dipamerkan oleh penyidik ke publik sejak ditangkap Subdit Jatanras Polda Jatim, Kamis (22/9).
Pengasuh padepokan di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo saat itu tidak mengenakan jubah atau seragam kebesaran. Namun lelaki bertubuh tambun itu mengenakan seragam tahanan warna orange dengan nomor punggung 03.

Taat Pribadi saat turun dari mobil setelah dijemput dari tahanan Polda Jatim, ketika melihat sekelompok wartawan langsung melempar senyum. Ia kelihatan segar seperti habis mandi dengan rambut disisir ke belakang.
Bagaimana kondisinya Dimas Kanjeng? "Sehat selalu," tuturnya.
Ketika disinggung terkait pembunuhan berencana terhadap dua pengikutnya, Taat Pribadi enggan menjelaskan. "Itu sudah saya jelaskan di BAP," terangnya.
Apakah pembunuhan terhadap Ismail dan Abdul Gani terkait laporan korban ke Mabes Polri? "Itu tidak ada kaitannya dan itu sudah saya jelaskan di BAP," sambung Taat.
Terkait banyaknya pengikut yang masih berkumpul untuk menunggu kepastian uang hasil penggandaan, Taat mengaku sanggup untuk mengembalikan.
"Siapapun yang saya rugikan akan saya kembalikan, jangan khawatir. Saya niatnya baik dan akan saya kembalikan," terang Taat saat digiring menuju gedung subdit Jatanras untuk pemeriksaan lanjutan.
Apakah Anda bisa menggandakan uang? "Insya Allah. Begitulah," jawabnya singkat.
Ketika menggandakan uang, Taat mengaku menggunakan ilmu dan itu dilakukan sejak 2006. Namun ilmu apa yang dipakai untuk menggandakannya, tersangka hanya melempar senyum. "Ya ilmulah," katanya.
Mengenai siapa saja yang menggandakan uang pada dirinya, lelaki berkulit sawo matang itu tak mau menyebut. Sewaktu 'dipancing' apakah ada pejabat, tokoh nasional atau tidak tokoh politik, Taat tetap tak mau menyebut. "Itu RHS (rahasia)," jelasnya sambil melempar senyum.
Sembunyi
Taat Pribadi juga mengaku, jika Marwah Daud Ibrahim adalah Ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. "Barusan beliau menjadi ketua yayasan," paparnya.
Sementara ada cerita lain saat penangkapan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Tersangka saat digerebek tim gabungan di padepokannya, berusaha sembunyi di balik pintu.
"Waktu petugas masuk, kondisi padepokan sudah sepi. Ruang olahraga juga sepi. Ternyata Taat bersembunyi di balik pintu dan langsung ditangkap," tutur petugas yang terlibat penangkapan.
Selama perjalanan dari Probolinggo menuju Polda Jatim menggunakan kendaraan Baracuda, petugas sempat menanyakan terkait penggandaan uang.
"Di mobil saya tanya dia, bisa enggak menggandakan uang," kata Kasubdit I Ditreskrimum Polda Jatim, AKBP Cecep Ibrahim di Gedung Ditreskrimum Polda Jatim.
Taat saat itu mengaku pusing dan tidak bisa fokus sehingga tidak bisa mempraktikkan kemampuannya. Ia justru mengaku jin peliharaannya kabur saat terjadinya penangkapan.
"Mungkin jinnya namanya Jin Ifrit. Dia kabur karena kena semprot gas air mata paling," gurau Cecep.
Periksa Marwah Daud
Hingga enam hari sejak ditangkap Kamis (22/9) sampai Rabu (28/9), Taat masih belum menunjukkan kemampuannya untuk menggandakan uang secara gaib.
Taat Pribadi selain menjadi tersangka otak pembunuhan juga terlilit kasus dugaan penipuan dan pencucian uang. Tiga laporan penipuan diterima Polda Jatim dengan kerugian korban total Rp1,5 miliar, satu laporan di Mabes Polri dengan kerugian korban Rp 20 miliar. Untuk kasus penipuan ini, status Taat masih sebagai saksi terlapor, belum tersangka.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol RP Argo Yuwono, menjelaskan bahwa ada dua kasus yang ditangani Polda Jatim. Namun yang difokuskan oleh penyidik adalah pembunuhan.
"Sementara ini masih fokus ke kasus pembunuhan dulu. Untuk menangani kasus Taat juga melibatkan Ditreskrimsus tapi pengendalinya Ditreskrimum," ungkapnya.
Penyidik Ditreskrimum Polda Jatim berencana memeriksaMarwah Daud Ibrahim dalam dugaan kasus penipuan yang menyeret nama Taat Pribadi. Marwah akan diperiksa sebagai saksi karena statusnya sebagai ketua Yayasan Padepokan yang diasuh Taat.
"Siapa pun yang terkait dan perlu dimintai keterangan akan diperiksa," ujar AKBP Cecep Ibrahim mendampingi Kombes Argo.
Kartel Penipuan
Cecep merasa heran dengan keyakinan Marwah Daud terhadap Taat. "Mungkin saja sudah telanjur bergabung, mau tidak mau dia harus membela," ungkapnya.
Dalam praktik penggandaan uang oleh Taat, jumlah korban diperkirakan mencapai 20.000 orang. Disinyalir dugaan penipuan itu terstruktur dan berjejaring luas. penyidik mengistilahkan padepokan yang ada bukan sebagai padepokan seperti umumnya, tapi sebagai kartel.
"Kalau saya sebut bukan padepokan, tapi kartel penipuan," kata AKBP Cecep Ibrahim.
Meski demikian, Cecep enggan menjelaskan nama orang di atas Taat yang ditengarai mengendalikan praktik penggandaan uang. Cecep juga menolak orang yang mengendalikan itu juga sebagai tempat penyimpanan uang Rp 1 triliun di Jakarta. "Semua masih ditelusuri," tegasnya. (Tim Surya/Mif/Lih)