HATI-HATI !! Jaga Lisan Jangan Sampai Lisanmu Mematuk Dirimu Sendiri

Kabarnetizen.com - Anda pasti pernah mendengar pepatah ini; bahwa orang-orang besar senang berbicara tentang

ide-ide, sementara orang biasa-biasa suka berbicara tentang diri mereka sendiri dan orang-orang

kecil suka berbicara tentang orang lain . Itulah gosip.

Gosip membuat orang menjadi kecil. Tidak

ada sesuatu yang bisa ditawarkan dalam gosip. Gosip hanya mengurangi kredibilitas

orang membicarakan dan yang dibicarakan serta bisa menghancurkan orang

yang mendengarkan.



Berhenti menyebarkan gosip dan menjadi penerima gosip. Jika Anda menghentikan gosip yang

diteruskan hanya sampai pada Anda, Anda akan memperbaiki kehidupan orang lain dan diri Anda

lebih baik lagi.

Lagipula, orang yang menceritakan gosip pada kita, biasanya akan menggosipkan

kita juga. Orang yang memiliki integritas tidak suka mengumbar omongan tentang

orang lain di belakangnya. Jika memiliki masalah dengan seseorang, ia lebih baik mendatangi

orang tersebut dan membicarakan masalahnya, tidak pernah melalui orang ketiga. Mereka juga

akan memuji orang secara terbuka dan mengkritik orang secara pribadi.

Jika Anda adalah orang

besar, berhentilah membicarakan orang lain dan mari membicarakan ide-ide besar yang bisa

mengubah dunia ! :-)

Berghibahlah, bila engkau merindukan jalan pintas menuju neraka, membuka pintu-pintu siksa

yang pedih, dan menarilah di atas penderitaan orang lain. Juga, tertawalah di atas derai air

matanya. Jadilah binatang buas yang melahap bangkai-bangkai manusia.

Tahukah kalian, ghibah itu lebih hina dari perzinaan atau pelacuran.

Imam Ghazali dan Imam

Baihaqi meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Janganlah sekali-kali kamu

melakukan pergunjingan, karena pergunjingan itu lebih berat dari perzinaan. Karena, jika

seseorang yang berzina kemudian bertobat maka Allah mengampuninya. Sedangkan penggunjing

tidak akan diampuni Allah, sebelum orang yang digunjingkan itu memaafkannya.”

Alangkah beratnya siksa yang ditanggung oleh tukang gunjing (mughtaab) , si tukang penyebar

ghibah. Betapapun dia bertobat kepada Allah, pintu pengampunan tidak akan terbuka, kecuali dia

berlari dan bersungguh-sungguh meminta maaf kepada orang yang digunjingkannya itu.

Termasuk ghibah yaitu seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura

pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing, atau yang selainnya

dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia.

Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits :

ْﺖَﻟﺎَﻗ ُﺖْﻴَﻜَﺣَﻭ : ُﻪَﻟ ﺎًﻧﺎَﺴْﻧِﺇ َﻝﺎَﻘَﻓ ﺎَﻣ : ْﻲِّﻧَﺃ ُّﺐِﺣُﺃ ُﺖْﻴَﻜَﺣ ﺎًﻧﺎَﺴْﻧِﺇ َّﻥِﺇ َﻭ ﺍَﺬَﻛ ْﻲِﻟ

‘Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”. Maka

Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya

mendapatkan sekian-sekian”

Bagaimana jika yang dighibahi adalah orang kafir ?

Berkata As-Shon’ani : “Dan perkataan Rosulullah r (dalam hadits Abu Huroiroh di atas) َﻙﺎَﺧَﺃ

(saudaramu) yaitu saudara seagama merupakan dalil bahwasanya selain mukmin boleh

mengghibahinya”.

Berkata Ibnul Mundzir :”Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya barang siapa

yang bukan saudara (se-Islam) seperti yahudi, nasrani, dan seluruh pemeluk agama-agama (yang

lain), dan (juga) orang yang kebid’ahannya telah mengeluarkannya dari Islam, maka tidak ada

(tidak mengapa) ghibah terhadapnya”

Nabi shallallhu’alaihi wasallam menjelaskan makna ghibah dengan menyebut-nyebut saudaramu

dengan sesuatu yang ia benci, baik tentang fisiknya maupun sifat-sifatnya. Maka setiap kalimat

yang engkau ucapkan sementara saudaramu membenci jika tahu engkau mengatakan demikian

maka itulah ghibah. Baik dia orang tua maupun anak muda, akan tetapi kadar dosa
yang

ditanggung tiap orang berbeda-beda sesuai dengan apa yang dia ucapkan meskipun pada

kenyataannya sifat tersebut ada pada dirinya.

Adapun jika sesuatu yagn engkau sebutkan ternyata tidak ada pada diri saudaramu berarti engkau

telah melakukan dua kejelekan sekaligus: ghibah dan buhtan (dusta) .

Nawawiy rahimahullah mengatakan,

“Ghibah berarti seseorang menyebut-nyebut sesuatu

yang dibenci saudaranya baik tentang tubuhnya, agamanya, duniannya, jiwanya,

akhlaknya,hartanya, anak-anaknya,istri-istrinya, pembantunya, gerakannya, mimik

bicarnya atau kemuraman wajahnya dan yang lainnya yang bersifat mngejek baik dengan

ucapan maupun isyarat.”

Beliau rahimahullah melanjutkan,

“Termasuk ghibah adalah ucapan sindiran terhadap perkataan

para penulis (kitab) contohnya kalimat: ‘Barangsiapa yang mengaku berilmu’ atau ucapan

‘sebagian orang yang mengaku telah melakukan kebaikan’.

Contoh yang lain adalah perkataan

berikut yang mereka lontarkan sebagai sindiran, “Semoga Allah mengampuni kami”, “Semoga Allah

menerima taubat kami”, “Kita memohon kepada Allah keselamatan”.

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, “Sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam ﻙﺮْﻛِﺫ ﻙﺎَﺧَﺃ (engkau

meneybut-nyebut saudaramu) ini merupakan dalil bahwa larangan ghibah hanya berlaku bagi

sesama saudara (muslim) tidak ada ghibah yang haram untuk orang yahudi, nashrani dan semua

agama yang menyimpang, demikian juga orang yang dikeluarkan dari islam (murtad) karena bid’ah

yang ia perbuat.”

Qurthubi rahimahullah mengatakan,

“Para ulama telah sepakat bahwasanya ghibah

termasuk dosa besar . Mereka berdalil dengan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

َّﻥِﺈَﻓ ْﻢُﻜﺿﺍَﺮْﻋَﺃَﻭ ْﻢُﻜﻟﺍَﻮْﻣَﺃَﻭ ْﻢُﻛَﺀﺎَﻣِﺩ ﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ ﻡﺍَﺮَﺣ

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram atas (sesama)

kalian”.( HR Muslim 3179, Syarh Nawai ‘ala Muslim)

Tidakkah kita takut pada siksa Allah? Bagaimana bila orang yang digunjingkan itu telah meninggal

dunia? Kepada siapakah engkau akan memohonkan maaf. Padahal, kunci surga hanya terbuka bila

ada pemaafan darinya.

Imam Gazali meriwayatkan penggalan nasihat Allah kepada Nabiyulah Musa AS.

“Barang siapa

yang mati dalam keadaan bertobat dari gunjingan, maka ia adalah orang terakhir yang memasuki

surga. Dan barang siapa yang mati dalam keadaan bergunjing, maka ia adalah orang pertama

yang memasuki neraka.” (Mukhtasar Ihya Ulumudin,1990: 241).

Saat ini, ghibah telah menjadi komoditas dan tontonan yang mampu mengangkat rating tayangan

televisi. Acara gosip yang dipandu para presenter cantik dengan pakaian setengah telanjang,

menjadi primadona pengelola televisi.

Kehidupan rumah tangga orang yang sangat pribadi pun dibongkar. Dan, kita pun merasa asyik

menonton gosip tersebut, bahkan turut melakukan estafet gosip ke tetangga sebelah. Maka,

berantailah penyebaran gosip.

Dalam dunia politik, ghibah merupakan senjata yang paling ampuh untuk mehancurkan harga diri

dari reputasi lawan politiknya yang secara populer dikenal dengan istilah character assasination

(pembunuhan karakter).

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian

dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah

menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging

saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah

kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (Al Hujurat 12)

Betapa besarnya dosa dan konsekuensi moral yang disebabkan oleh ulah lidah, menggosip dan

mencela atau mencaci maki orang lain. Inilah ajaran moral kemanusiaan paling fundamental yang

menghiasi akhlak seorang Muslim. Betapapun rajin kita beribadah, di hadapan Allah ibadahnya

tidak memiliki manfaat sama sekali, selama lidah kita menggosip dan menyakiti orang lain.

Sahabat Muadz bin Jabbal RA pernah bertanya pada Rasulullah SAW.

“Apakah kita akan diminta

pertanggungjawaban karena apa yang kita ucapkan, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

“Hai

Ibnu Jabbal, tidaklah manusia-manusia itu akan ditelungkupkan dengan hidungnya terlebih dahulu



di neraka, melainkan karena apa yang dilakukan oleh lidahnya.” (HR Hakim)