Parenting: Cara Jitu Mencerdaskan Emosi Anak Yang Wajib Anda Ketahui

Kabarnetizen.com - Jika kita amati, disekeliling kita ada orang dewasa yang belum mampu mengelola emosi, baik dalam berinteraksi dengan keluarganya maupun dalam interaksi di kantor, maupun ketika berada di jalanan.
Para ahli menduga, orang-orang seperti ini kurang mendapatkan latihan mengelola emosi sejak kecil. Bagaimana dengan anak-anak sekarang? ketika mereka bertengkar dengan teman, kemungkinan mereka sedang melatih mengelola emosi.


Namun, seperti yang kita saksikan lewat media, jika gara-gara masalah sepele ada remaja yang tega membunuh temannya, tidak lulus ujian sekolah lalu bunuh diri, apakah ini latihan yang sehat untuk mengelola emosi? Saat mereka dewasa nanti mampukah mereka tumbuh menjadi generasi emas yang mengelola negeri ini? akankah mereka menjadi orang tua yang mampu mencerdaskan emosi anaknya kelak?
Cerdas emosi, artinya seseorang mampu untuk mengenali emosi diri (memahami apa yang terjadi dalam dirinya), mampu mengelola emosi diri (kapan marah, kapan sedih, dan bagaimana mengekspresikannya), mampu memotivasi diri, mampu mengenali emosi orang lain, dan mampu membina hubungan dengan orang lain.
Jika orang tua hanya fokus mengurusi “kepintaran” anak di bidang akademik, misalnya menuntut nilai yang tinggi di sekolah, namun tidak melatih kecerdasan emosinya, besar resiko anak tidak cerdas emosi. Menurut penelitian, 90% orang orang-orang sukses di dunia adalah orang yang cerdas secara emosi.
Massa awal pembentukan cerdas emosi pada anak adalah sebelum mereka berusia 7 tahun. Pada masa itu pusat emosi di otak sedang berkembang pesat. Jika pada masa itu orang tua justeru ingin anaknya melakukan sesuatu semua serba cepat, seperti perintah “ayo, cepat mandi, ayo cepat kerjain PR, ayo cepat makannya”, bisa-bisa emosi anak dalam keadaan BLASTed : Bored, Lonely, Angry, Stress, Tired. Bagaimana melatih anak untuk mengontrol emosinya, terutama emosi negatif?
Yaitu mengenalkan anak dengan berbagai jenis emosi: senang, gembira, sayang, sedih, kecewa, marah dan sebagainya. Cara mudahnya adalah dengan menyebutkan nama perasaan itu ketika mereka mengekspresikannya.
Misalnya jika anak Anda teriak kepada adiknya karena mainannya diambil, kita mengatakan “Adik marah ya..?”. Langkah berikutnya adalah biasakan mereka membaca bahasa tubuhnya ketika menunjukkan perasaan itu, dengan mengatakan “kakak marah sekali ya sampai teriak sekeras itu?”.
Ajak dia untuk mengenali ciri-ciri wajahnya dan tubuhnya ketika marah, misalnya suaranya keras sekali, tangan mengepal, wajahnya cemberut merah tanpa senyum. Kalau ada cermin, ajak dia untuk melihat wajahnya dan tubuhnya ketika marah, hingga dia bisa memahami begitulah wajahnya saat marah.
Terima perasaannya, tidak perlu Anda larang ia merasakannya, biarkan ia merasakannya, biarkan ia mencurahkan marahnya dengan cara bercerita kepada Anda. Tahan diri dulu untuk “mendamaikannya” dengan sumber emosinya yakni sang adik, apalagi menasehatinya.
Emosi itu seperti air, jika terbendung (tidak dialirkan) tekanannya semakin kuat. Tugas Anda adalah membuat “kanal jiwa” untuk mengalirkan emosinya mereda, ajak dia untuk berpikir apa yang selanjutnya bisa ia lakukan jika hal seperti itu terjadi lagi.
Jika ia sering berlatih demikian, insha Allah anak kelak akan mampu mengelola dan mengontrol emosinya di dalam maupun diluar rumah, untuk persoalan kecil maupun besar.
Sumber: Elly Risman, Pakar Parenting via Yatim Mandiri September 2015